Wujudkan Ekonomi Sirkular di Masa Depan, Yakult Indonesia Hadir di Hasil Kajian Terkait Studi Aliran Material Polisterina di Indones

Yakult Indonesia berpartsipasi dalam “Diseminasi Studi Material Flow Analysis (MFA) Polistirena di Indonesia” yang diselenggarakan oleh ADUPI (Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia) berkolaborasi dengan KIBUMI. Acara berlangsung pada tanggal 17 Juni 2025 bertempat di Hotel Ascott Sudirman dan dihadiri oleh 33 orang peserta yang berasal dari berbagai kementerian dan lembaga.

Gambar 1 : Perwakilan Yakult bersama perwakilan instansi pemerintah, pihak swasta serta akademisi.

Latar Belakang

Polistirena (PS) adalah polimer termoplastik yang banyak digunakan di berbagai sektor industri karena sifatnya yang ringan, kuat, dan murah. Di Indonesia, PS banyak dimanfaatkan, terutama oleh UMKM untuk kebutuhan kemasan. Meskipun produksinya lebih rendah dibanding jenis plastik lain seperti PET atau PE, konsumsi PS terus meningkat, sehingga menimbulkan tantangan dalam pengelolaan sampah.

Kontribusi PS terhadap total sampah nasional sebanyak 137,44KT (sekitar 0,16% sampah plastik & 0,4% sampah nasional pada 2023). Pemerintah telah mengambil langkah strategis melalui kebijakan yang menargetkan pengurangan dan pengendalian penggunaan PS secara bertahap hingga tahun 2030. Ini membuka peluang penguatan infrastruktur daur ulang dan kolaborasi multipihak.

Studi “Analisis Aliran Material Polistirena (PS) di Indonesia” memetakan siklus hidup PS dari produksi hingga pasca-konsumsi. Temuan menunjukkan ekosistem daur ulang PS mulai terbentuk melalui peran aktif sektor formal dan informal, serta inovasi sirkular. Kedepannya, pengelolaan PS mampu lebih adil dan berkelanjutan. Dari data yang disampaikan, resin EPS (Expanded Polystyrene) di Eropa mengandung 2% PS dan 98% udara.

Peran Yakult dalam penggunaan Polisterena

Pada awalnya, Yakult menggunakan kemasan berbahan kaca di tahun 1935. Namun karena kebutuhan yang meningkat dan kepraktisan dalam distribusi, di tahun 1968 kemasan Yakult berupa menjadi kemasan plastik. Yakult hadir di Indonesia sejak 1991, telah menggunakan kemasan primer berbahan HIPS (High Impact Polystyrene). HIPS digunakan karena memiliki daya tahan yang baik untuk mempertahankan kualitas dan keamanannya.

Gambar 2 : Pemaparan materi terkait “Polistirena Sebagai Kemasan Minuman Susu Fermentasi” oleh pihak Yakult yaitu Ni Putu Desy Aryantini,  Supervisor PR Science Yakult Indonesia

“HIPS memiliki struktur yang sangat rigid untuk melindungi bakteri di dalam produk supaya tidak terkontaminasi nah dia harus dikemas dengan kemasan yang memungkinkan ketika diproduksi di suatu pabrik dan didistribusikan di tempat yang jauh supaya tidak mudah retak dan keamanan pangan dapat dijaga” ucap Ni Putu Desy Aryantini selaku Supervisor PR Science Yakult Indonesia ketika memberikan pemaparan materi di kegiatan ini.

Beliau menambahkan, HIPS menjaga kualitas produk dari segi flavour, sehingga tidak ada perubahan dan mencegah regenerasi flavour yang tidak diinginkan. HIPS juga merupakan bahan yang baik digunakan untuk penyimpanan produk di suhu yang rendah. Lalu juga mampu dibentuk sesuai kebutuhan produsen, contohnya botol Yakult yang beredar di pasaran.

Gambar 3 : Kunjungan peserta kegiatan terhadap hasil produk olahan botol kemasan Yakult.

Dalam perannya terkait ekonomi sirkular, Yakult Indonesia juga melakukan pengumpulan sampah melalui distribusi Direct Sales (DS) dan Yakult Lady (YL) sejak tahun 2021. Hasil botol yang telah dikumpulkan lalu diserahkan kepada mitra UMKM dan diolah menjadi berbagai macam. Seperti peralatan makan, keychain, tempat sampah, tempat sabun, jam, tatakan gelas, dsb. Kedepannya Yakult Indonesia akan memaksimalkan potensi ini untuk mendukung daur ulang sampah dari produk kemasan botol berbahan PS.

|

Bagikan :

Copy link
URL has been copied successfully!